Posts

Generasi Xenial Pertama di Kabinet Indonesia

Image
Nadiem Makarim, 35, Mendikbud Kabinet Kerja II (reuters) Saya tersentak ketika sedang membaca komik terdengar om saya setengah berteriak “Ma, si anu jadi menteri A”. Dalam hati saya yang masih anak-anak “Wah Om kenal ya sama menteri itu”.  Kejadian ini terjadi sekitar tahun ‘93 di rumah sepupu saya di Bandung, saya masih SD. Om Saya pejabat di Telkom, wajar saya berpikir begitu. Tiga hari lalu, saat Presiden Jokowi memanggil calon menterinya, dalam hati saya berkata “Wow, si anu jadi menteri” agak mirip sama kata-kata om saya dulu. Tentu saja saya nggak kenal langsung sama si calon menteri, kenalnya ya lewat media. Calon menteri yang bikin saya wow itu adalah Nadiem Makarim, (sekarang mantan) CEO Gojek yang umurnya kira-kira setengah tahun lebih muda dari saya. Disaat teman-teman seumurannya masih berada di ujung paling bawah birokrasi, Nadiem dipercaya Jokowi untuk berada di ujung teratas. Yang kemudian lebih mengejutkan lagi, Nadiem dipercaya memimpin pos Pen...

Nonton Lion King 2019

Image
Di tengah film Keisha berbisik pada Saya "Ayah, filmnya bagus, aku suka" Ini bukan promosi film ya, tapi memang sejujurnya Saya nggak terlalu berharap banyak dia akan suka, terhibur mungkin. Kok bisa? Pertama, film binatang bukanlah tipe film kesukaannya, bahkan kartun sekalipun. Berbeda dengan Aladdin, Keisha selalu menolak kalo saya tawari nonton film kartun Lion King. Itu makanya meski dia semangat diajak nonton, itu bisa jadi karena dia bakalan dapat Pop Corn ketimbang hype ketika akan melihat Prince Ali dan Princess Jasmine versi nyata. Sebelum ini saya berhasil bikin dia nonton Dumbo meski dengan sedikit 'memaksa'. Kedua, karena dia itu hypenya film Princess, dia sekarang lagi suka banget dengan Descendants, produksi Disney juga yang ternyata ceritanya tentang anak-anaknya Beauty and The Beast dkk. Dia nemu sendiri film itu di Youtube. Saya juga kaget karena kalo dia buka Youtube dia biasanya nonton yang mainan atau make-up gitu. Tapi memang...

Gubernur, Bupati dan Sandal

Image
Terpeleset itu hal yang biasa dan bisa terjadi pada siapa saja. Apalagi jika orang yang terpeleset itu melakukan lebih dari satu hal secara bersamaan. Misalnya berjalan atau berlari sembari mengambil foto. Dampak paling ringan, sandal terlepas. Menjadi menarik ketika sandal yang lepas itu jatuh di depan pejabat penting seperti Gubernur dan atau Bupati. Hal ini yang terjadi pagi tadi di Balai Budaya Ida I Dewa Istri Kanya, Semarapura, Klungkung. Ceritanya saya sedang berdiri di tangga mengambil gambar Gubernur Bali dan Bupati Klungkung yang akan memasuki Balai Budaya ketika kemudian akan berbalik menyadari seseorang terjatuh di samping saya. Sebenarnya saya yang menyadari langsung mencoba menolongnya tapi karena tangan sedang memegang kamera dan posisi badan setengah berputar upaya saya jadi tak maksimal. Si fotografer ini jatuh terjerembab persis di depan saya. Waktu itu saya tidak menyadari kalau sandalnya jatuh. Saya cuma mendengar orang-orang yang melihat kejadi...

Batas Toleransi Orang Bali

Image
screenshot video pengambilan canang Kemarin, sebuah video viral di media sosial. Isinya seorang perempuan Bali sedang menghaturkan canang di pantai sebagai sebuah prosesi melasti , membersihkan diri jelang Hari Raya Nyepi. Yang menarik dalam proses penghaturan itu tampak beberapa pria berpakaian bebas (tidak berpakaian adat Bali) mengawal betul sang Ibu. Kontroversi muncul ketika canang ditaruh di tanah dan dihaturkan seketika salah satu pria mengambil canang tersebut. Ia tidak sendiri ada beberapa orang yang juga berkeliaran di tempat yang diduga pantai Padanggalak Denpasar tersebut. Tujuan mereka sama mengambil uang yang ada di atas canang yang dihaturkan. Saya tak mau menduga-duga siapa para pengambil uang tersebut. Tapi mestinya mereka yang memiliki kepercayaan yang sama tak akan punya nyali melakukan tindakan tersebut. Takut pada Beliau . Yang jelas, si Ibu yang canangnya diambil tersebut tak bereaksi berlebihan. Memang raut mukanya bercampur antara kaget dan kesa...

Perlukah Wisata Halal di Bali?

Image
Isu wisata halal di Bali bukanlah hal baru. Seingat saya sebelum Cawapres Sandiaga Uno datang ke Bali isu ini sudah pernah muncul dan mendapat respon negatif dari warga Bali. Entah apa motivasi Bang Sandi untuk kembali mengangkat isu ini dalam kampanyenya sebagai calon wakil presiden Prabowo Subianto beberapa hari yang lalu. Yang saya sayangkan sebenarnya bukan soal perlu atau tidaknya isu ini diangkat tapi soal potensi isu ini mengarah ke zona SARA. Tapi untuk fair- nya saya akan coba memberi opini apakah perlu ada wisata halal di Bali. Jika menilik pada statement Sandi yang berkutat di angka, maka Sandi mencoba mengatakan bahwa pasar dari wisatawan muslim itu besar dan itu tidak bisa ditampik. Tapi dengan besarnya luas Indonesia, justru banyak daerah yang punya potensi lebih besar untuk mengambil pasar ini. Ini bukan berarti Bali sudah tak membutuhkan pasar lagi. Nyatanya pemerintah selalu meningkatkan target pariwisata Bali yang berarti kreativitas pelaku pariwisata dituntut u...

DEMOKRASI DI ERA DIGITAL

Image
Dari tribun penonton seorang Ibu berteriak keras “kok nggak diumpan sih!”. Tak berapa lama komentar lain muncul “kok malah kesana sih!”. Dan dilanjutkan dengan “kok” lainnya. Di sisi lain ada seorang Bapak tak kalah keras berkomentar “Aduh si Itu lemah banget”. Tak lama lagi dia berkomentar “Harusnya tadi digituin”. Dari belakang terdengar suara salah seorang ofisial tim berkata “Santai aja, pasti menang kok”. Tiba-tiba saya seperti berada di dunia maya. Tepatnya melihat media sosial. Saya membayangkan si Ibu dalam bentuk profil facebook dengan statusnya “kok gini sih”. selanjutnya si Bapak jadi akun twitter dengan twit ‘kritis’nya. Dan si ofisial saya bayangkan seperti akun instagram yang captionnya kadang nggak dibaca. Keriuhan media sosial saya lihat persis seperti tribun penonton sepakbola. Khususnya di masa pemilu. Si A sibuk mendukung 01. Si B sibuk ngeshare kejelekan 01. Si C sibuk selfie.  Dulu, yang terjadi di tribun penonton sepakbola ya cuma ...

It's Not Easy (To Be)

Image
foto: shutterstock.com Malam itu ia terduduk di tangga sambil menghisap rokok di mulutnya. “Tidak mudah disayangi Beliau,” kalimat itu keluar dari mulutnya. Hari ini memang cukup berat, secara fisik dan mungkin juga mental. Sulit dijelaskan secara detil. Banyak hal yang misterius bagi saya.