Thursday, September 17, 2009

"Ini Nurdin.. bukan itu anak patung!!"

"Ini Nurdin.. bukan itu anak patung!!" Percakapan yang sekilas mirip adegan komedian Dono dan Boneng dalam salah satu film Warkop DKI ini tampaknya cocok menggambarkan perasaan orang Indonesia ketika mendengar berita penggerebekan teroris di Solo (17/9/09) yang menewaskan gembong teroris asal Malaysia Nurdin M. Top (kebetulan dalam film Boneng berperan sebagai orang Malaysia). Apalagi berita yang tiba-tiba muncul setelah penggerebekan dikabarkan usai membuat masyarakat semakin skeptis dan membutuhkan bukti yang lebih akurat untuk membuktikan kebenaran berita tersebut.

Pasalnya sebulan sebelumnya dalam penggerebekan di Temanggung, masyarakat telah disuguhi adegan penggerebekan yang dramatis dan melelahkan yang menghabiskan waktu 18 jam, belum termasuk proses identifikasi yang memakan waktu berhari-hari. Dan hasilnya, gembar-gembor media akan keberadaan Nurdin M. Top sebagai korban berakhir anti-klimaks ketika tes DNA menyatakan bahwa korban tewas tersebut adalah Ibrohim, bukan Nurdin. Padahal Ibrohim sendiri bukan tokoh ga penting dalam komplotan Nurdin, dialah yang menjadi kunci keberhasilan peledakan Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton (17/7/09) dengan menyusup sebagai florist selama 3 tahun bahkan diduga sebagai calon pelaku bom bunuh diri dalam peledakan selanjutnya. Namun kebencian masyarakat terlanjur terlalu besar kepada Nurdin sebagai pimpinan kelompok ini termasuk harapan kematian Nurdin akan mengakhiri aksi terorisme di Indonesia sehingga kekecewaan yang muncul ketika mengetahui tersangka yang tewas di Temanggung bukanlah Nurdin

Dan ketika hari ini masyarakat disuguhi berita kematian Nurdin, kecemasan blow up media menyeruak. Apalagi tidak ada berita penggerebekan seperti sebelumnya, yang ada hanya laporan pasca kejadian dengan menyebut jumlah tersangka yang tewas maupun tertangkap termasuk dugaan identitas yang salah satunya menyebutkan nama Nurdin M. Top. Dua televisi berita swasta utama hanya menampilkan laporan dari reporter lapangannya yang mengorek keterangan dari polisi dan narasumber lainnya. Meskipun tidak sedramatis berita penggerebekan sebelumnya, laporan reporter meyakinkan bahwa hasil kerja polisi kali ini cukup besar.

Namun beberapa jam kemudian dalam konferensi pers, Kapolri memastikan sidik jari korban tewas cocok dengan Nurdin M. Top riuh tepuk tangan wartawan yang menyertai bisa jadi sekaligus menggambarkan perasaan yang kurang lebih sama dari masyarakat Indonesia. Namun riuh wartawan selanjutnya muncul di sesi tanya jawab, terutama ketika mereka tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Kapolri yang beberapa kali kira-kira mengatakan “Datanya ada, tapi kan bukan untuk konsumsi kalian, ini untuk kami saja”. Jelas sekali dalam operasi kali ini polisi jauh lebih rapi dan hati-hati, sebulan yang lalu Kapolri mengungkapkan kekecewaannya terhadap media yang terlalu cepat masuk ke dalam medan pertempuran bahkan memunculkan isu keberadaan Nurdin. Media pun memang tetap harus menggali segala informasi yang bisa didapatkannya untuk memenuhi kebutuhan pemirsa dan tidak bisa sepenuhnya dipersalahkan.

Pasca konferensi pers sulit rasanya menyangkal kebenaran berita ini. Keberadaan 7 orang dalam rumah tersebut (4 diantaranya tewas dalam baku tembak dan ledakan bom) merupakan sebuah keberhasilan yang patut diacungi jempol. Apalagi sebagian besar merupakan target utama polisi. Apapun polisi tampaknya banyak belajar dari penggerebekan sebelumnya yang cukup ‘direcoki’ media dan hasilnya justru mengundang cibiran ketimbang ucapan keberhasilan dalam kerja kerasnya. Meskipun tidak ada gambar menarik dan dramatis namun dari segi hasil tampaknya kali ini lebih meyakinkan. Akhirnya kematian Nurdin tidak perlu dijadikan euforia berlebihan, mengutip Master Cheng Yen, orang yang bijaksana harus tetap waspada di masa aman. Apalagi beberapa tokoh kelompok Nurdin seperti Syaifudin Jaelani masih ada. Belum lagi isu keselamatan pemudik atau proses anti-korupsi yang tidak boleh dilupakan. Namun rasanya tak berlebihan untuk mengucapkan selamat dan bangga kepada Tim Anti-Teroris Polri.

Read More......

Thursday, August 06, 2009

Shine At The End

Wednesday, August 5 2009 03.30 WIB

4 August 2009, we were shocked by the death of Mbah Surip. As we called him Mbah, he was die at the age 60, an average life of Indonesian people. What makes it big is that Mbah Surip is just only famous as his song 'Tak Gendong' is a big hits at the moment. One rumour says the RBT was activated at least by 8 million people that he should have been a millionaire. His producer couldn't confirm this as he said he hasn't got any report from the operators yet, but he suspected the news was true. In one television show before he die, the producer ask him why he never asks his earnings from the records, Mbah Surip like usual just give big laugh and say

"what for? If it should be mine, it will be mine"

Mbah Surip is a typical Javanese philosophist that believes in God's will. Between his jokes and sometimes 'not understable' words, he says wise things like obeying our parents and have their agreement in our life. A lot of interesting things revealed after his death like his high educational background that helped him work overseas for years, or how he started his adventure as an artist more than 20 years ago and only got his star shining recently. My conclusion on the short things I found about him is that he was someone who believed in his dreams and his 'soul' has called him to leave what he has before and becoming an artist that ended him where he is now. Yes, we should not forgot that he might died because of no management in his new bussiness, but he has made his choice and I believed he died happily.

Speaking about Mbah Surip some people reported that his death has overcome Michael Jackson's death news. But I won't bother that, Michael death has only shocked also, eventough his not young anymore and his star was fading after not being actively recording anymore he is still the 'King of Pop'. I myself am one of his fans, especially in the 90's. My favorite is still 'You're Not Alone' and 'Heal The World', while songs like 'Black or White', 'Ben' and some others are five stars in my playlist. One of the strongest memories related to Michael was 15 years ago when I lived with my Grandfather. That time my Grandfather bought 'Dangerous' album. He liked to played 'Gone Too Soon' in his new stereo. Not so long after that, he was really 'gone'. The song that wonderfully written by Babyface is one of the song that I liked and made me remember that moment whenever I heard it, including the moment when my cousin that already lived long with my Grandfather usually heard the song in our house in silence.


Read More......

Friday, April 24, 2009

Potensi

bagaimana mengetahui potensi kita??
pernahkah kita mendengar kata-kata misalnya

Terima Kasih

Untung Ada Kamu

Kamu Bisa Saya Andalkan Dalam Hal Ini


atau kata-kata semacam itu lainnya
bisa jadi itulah bentuk pekerjaan yang tepat bagi kita
bisa jadi itulah potensi yang kita miliki
kata-kata itu mungkin simple dan sering kita dengar, tapi jarang kita melihatnya dari sudut pandang ini.
setidaknya itu yang saya dapatkan dari Mario Teguh hari ini.

Ada sebuah saran bagus juga bagi kita yang masih baru atau akan meniti karir kita.
Bahwa apapun pekerjaan tersebut haruslah yang menjadikan kita menjadi pribadi yang kita inginkan. Bukan masalah berapa yang kita dapatkan namun bagaimana pekerjaan itu menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Selain itu buatlah kesalahan seawal mungkin dan jangan mengulang kesalahan, orang yang masih muda lebih dimaklumi dalam membuat kesalahan, mirip sebuah nasehat yang pernah saya dapatkan dari Ayah kawan saya di kuliah dulu

Read More......

That's All

I can only give you love that lasts forever,
And a promise to be near each time you call.
And the only heart I own
For you and you alone
That's all,
That's all...

I can only give you country walks in springtime
And a hand to hold when leaves begin to fall;
And a love whose burning light
Will warm the winter's night
That's all,
That's all.

There are those I am sure who have told you,
They would give you the world for a toy.
All I have are these arms to enfold you,
And a love even time can't destroy.

If you're wondering what I'm asking in return, dear,
You'll be glad to know that my demands are small.
Say it's me that you'll adore,
For now and evermore
That's all,
That's all.

Itulah lagu yang menginspirasi Utami (Tami) istri Pepeng untuk memberi judul bukunya yang berjudul sama, "That's All". Konon lagu ini selalu didengarkan pasangan ini setiap pagi. Bagi Tami lagu ini merupakan bentuk ketulusannya merawat Pepeng yang terserang multiple sclerosis (MS) sejak 2005.
Ia ingin meyakinkan Pepeng bahwa tidak ada yang ia inginkan, kecuali berada di sampingnya, hanya itu (that's all).
Itulah yang saya tangkap setelah menyaksikan mereka di Kick Andy Malam ini.

Read More......

Monday, April 13, 2009

Menebak Arah Koalisi Setelah Pemilu Legislatif

Hasil pemilu legislatif resmi dari KPU memang belum final. Namun hasil sementara menunjukkan hasil yang tidak berbeda jauh dari hasil final quick count yang ditayangkan televisi swasta sehari setelah pemilu 9 April lalu. Hasil itu antara lain menempatkan partai Demokrat di posisi pertama dengan perolehan suara ± 20%, diikuti dengan partai PDI-P dan Golkar dengan perbedaan tipis di kisaran ± 15%, sementara itu papan tengah diisi PKS dan PAN dengan ± 7-8%, selanjutnya diikuti PPP, PKB dan dua partai baru Gerindra dan Hanura sebagai partai-partai yang diperkirakan memenuhi parliamentary treshold untuk dapat duduk di Senayan.

Hasil yang mungkin cukup mengagetkan adalah tingginya peningkatan perolehan suara partai Demokrat dibandingkan pemilu 2004 yang secara tidak langsung menggerogoti persentase Golkar dan PDI-P yang mengalami penurunan suara cukup tinggi. Meskipun hasil ini ditengarai sebagai keberhasilan partai Demokrat mengusung figur SBY sebagai tokoh yang popularitasnya berimbas pada keputusan rakyat memilih partai tersebut. Hasil ini sekaligus mementahkan kepercayaan diri partai Golkar yang sebelumnya berniat mengusung JK sebagai calon presiden sendiri. Bagi PDI-P sendiri hasil ini meski mengecewakan tetapi tidak terlalu mengagetkan mengingat popularitas Megawati yang cukup menurun akhir-akhir ini. Penurunan di PDI-P pun tidak sesignifikan Golkar.

Permasalahannya dengan sistem demokrasi multi partai ini, wacana koalisi menjadi pilihan rasional partai. Dengan menguasai ± 20% kursi legislatif, partai Demokrat memang menjadi satu-satunya partai yang memenuhi syarat mengusung capres. Namun angka tersebut tidak cukup kuat dalam usaha untuk memenangkan pilpres dan terutama untuk mendapatkan pemerintahan yang kuat di parlemen. Apalagi dengan partai-partai yang lainnya, mereka HARUS berkoalisi untuk dapat mencalonkan presiden.

Apabila menilik faktor pencalonan presiden, maka hasil pemilu legislatif ini menempatkan SBY sebagai calon yang dipastikan tidak terganjal menuju pilpres. Sementara itu Prabowo, Wiranto, Hidayat Nur Wahid dan Soetrisno Bachir meskipun masih memiliki peluang, tampaknya harus sadar diri dengan perolehan suara partai mereka. Megawati sendiri sejak awal memproklamirkan diri sebagai capres terlepas dari koalisi apapun yang akan dibentuk PDI-P, dan hal ini masih sangat memungkinkan dengan perolehan suara partai tersebut. Sementara posisi Golkar menjadi dilematis karena meskipun masih memiliki suara yang cukup banyak, Golkar membutuhkan koalisi dengan salah satu dari Demokrat atau PDI-P. Bagaimana dengan capres dengan Golkar? Sejak awal majunya JK ke dalam bursa pilpres tidak muncul dari inisiatif sendiri. Selain popularitasnya yang rendah sebagai capres, terjadi dualisme di tubuh Golkar menyangkut majunya JK sebagai pilpres, sebagian petinggi partai tersebut - termasuk JK sendiri - lebih memilih jalur aman untuk kembali menjadi cawapres SBY.

Setelah kemarin Prabowo menemui Megawati, hari ini beliau menemui Wiranto. Sementara itu PKS sejak kemarin terus mengikrarkan diri sebagai kawan Demokrat. Secara implisit, Demokrat dan PDI-P mulai menjadi dua magnet besar. Selain Gerindra dan Hanura yang mengarah ke PDI-P dengan wacana kecurangan dalam Pemilu, PPP pun ditengarai sudah lebih dulu merapat. Sementara di kubu Demokrat selain PKS yang sangat PD akan berkoalisi dengan Demokrat, PAN dan PKB juga dinilai akan mendukung Demokrat. Dimana posisi Golkar? kembali Golkar belum dapat menegaskan preferensi koalisi ini. Disini sesungguhnya posisi Golkar menjadi penting sebagai penentu kekuatan bagi kedua kubu tersebut.

Dalam pernyataannya, seorang petinggi Golkar menyebutkan bahwa Golkar mengharapkan koalisi yang berdasarkan kebangsaan, pemerintahan yang kuat di parlemen lebih baik sehingga capres yang kuat akan menjadi pertimbangan. Dari pernyataan kedua tersebut, secara sederhana peluang Demokrat dengan SBYnya lebih kuat. Namun seperti yang telah kita ketahui, perbedaan pendapat di dalam tubuh Golkar masih berlangsung. Jika pertemuan JK-SBY malam ini diartikan sebagai penjajakan kembali ketua umum Golkar kepada SBY - dengan kemungkinan besar menarik kembali pernyataannya sebagai capres – maka bisa saja koalisi Golkar-Demokrat selangkah lebih maju. Namun keinginan grass root Golkar yang direstui Dewan Pembina Surya Paloh bisa saja mengartikan langkah ini sebagai pengkhianatan JK. Jika kondisinya begini maka kemungkinannya justru 50-50 atau kekuatan di parlemen nanti masih tanda tanya karena satu partai belum tentu satu suara.

Dari sini pertanyaan mendasar sebenarnya harus kembali ditanyakan. Sebagai sebuah partai politik, dimana letak ideologi termasuk visi dan misinya dalam proses pemilu ini? Hal ini mengingat proses penyampaian bentuk partai ini saat ini lebih tertutupi oleh pencitraan atau dalam bahasa lain advertising. Begitu berperannya pencitraan ini sehingga tidak ada lagi orator semacam Bung Karno yang mampu menggugah hati nurani. Pencitraan ini pun sering menimbulkan blur terhadap ideologi partai sesungguhnya. Ibarat semangka, luarnya hijau dalamnya ternyata merah ataupun sebaliknya. Termasuk dalam hal koalisi ini, ada indikasi yang menunjukkan partai tidak mempertimbangkan lagi tujuan aslinya, namun lebih pada hitung-hitungan untung rugi, matematika kekuasaan. Apabila ini yang menjadi pijakan, maka bisa jadi banyak kawan sebangsa ini yang akan tertipu karena memilih partai yang ternyata kemudian tidak berlaku seperti yang diharapkannya. Bisa saya bayangkan memilih partai menjadi seperti memilih operator telepon seluler dengan iklan yang segudang namun kita sesungguhnya tidak tahu ada tanda asterisk(*) di iklan tersebut (itupun jika si pembuat iklan berbaik hati memberi informasinya). Sehingga pertanyaan akhirnya adalah kapan kita bisa memilih partai dengan PD karena mengetahui arah politiknya secara jelas, misalnya seperti Republik dan Demokrat di AS yang memang sudah dapat ditebak arah kebijakan politiknya masing-masing.

Read More......

Tuesday, January 20, 2009

Inagurasi Obama

Malam ini merupakan pelantikan Presiden Amerika Serikat ke-44. Apa yang istimewa pada pelantikan hari ini. Hal ini mengingat bahwa hari ini saya menyaksikan terjadinya sebuah sejarah, yaitu dilantiknya Barrack Obama sebagai Presiden Kulit Hitam pertama di dunia. Simbol ini ditandai dengan penghormatan terhadap Presiden Abraham Lincoln yang memperjuangkan untuk menghapus perbudakan yang menjadi awal eksistensi kaum kulit hitam di Amerika. Simbol ini diwujudkan dengan penggunaan kereta api sebagai sarana Obama menuju Wahington dan Injil yang digunakan dalam pengambilan sumpah merupakan Injil yang sama yang dulu digunakan dalam pengambilan sumpah Abraham Lincoln. Obama juga menjadi simbol terwujudnya mimpi pejuang warga kulit hitam Martin Luther King yang memperjuangkan persamaan hak dan melawan rasisme.

Namun apakah Obama ini hanya akan menjadi simbol saja? Jujur saja saya kagum akan karisma yang ditunjukkan seorang Obama, terutama ketika berpidato. Suara dan gerak tubuhnya berbicara lebih dibanding kata-kata positifnya. Saya sendiri tidak dapat mengesampingkan bahwa dengan optimisme dan hal-hal positif yang diungkapkan dalam pidatonya, muncul harapan bagi sebuah kepemimpinan yang baru yang lebih baik. Tidak dapat dipungkiri ia hadir dalam kondisi yang kurang bagus, dimana Amerika dalam tekanan secara ekonomi maupun politis setelah krisis finansial global dan kebijakan luar negeri yang dipandang terlalu keras terutama di Timur Tengah. Saya juga tidak mengesampingkan berbagai pendapat pesimis yang muncul dengan perubahan ini. Memang benar bahwa mungkinkah seseorang mengubah sistem yang sudah ada. Namun jika saya mengambil jalan tengah dan berpikir positif, sosok Obama sampai saat ini menampilkan seorang sosok yang positif dan bersahaja. Ini saya harap menjadi sebuah pertanda, untuk setidaknya menyeimbangkan kembali kapal yang sedang miring. Warisan yang diberikan kepadanya adalah kondisi sudah keluar jalur, baik itu secara moral maupun riil, semoga kereligiusan, kesederhanaan dan kebijaksanaan yang ia tunjukkan memang berguna untuk setidaknya membawa Amerika kembali ke jalur yang benar.

Read More......

Kepompong

Saya keranjingan kepompong..
Ya.. serial kepompong yang ditayangkan di SCTV. Not really addicted actually, namun cukup untuk membuat terdiam di depan TV apabila saat itu luang.

Ini lucu karena pada awalnya ketertarikan saya pada promosi serial (menurut media saat itu sinetron) ini karena adanya dua sosok yang cukup menyita perhatian saya. Yang pertama adalah kehadiran Derby Romero eks aktor cilik pemeran Sadam dalam salah satu film favorit saya Petualangan Sherina. Dan yang kedua sosok seorang gadis cantik bernama Aryani Fitriana yang sepertinya cukup familiar bagi saya. Selidik punya selidik ternyata cewek itu panggilannya Ryan dan merupakan Gadis Sampul tahun 2002.

Awalnya si aku pikir ini cuma sinetron seperti biasanya dengan formula andalan tampang-tampang oke dan lagu yang lagi hits. Hal ini membuat tidak ada ketertarikan untuk mengikuti tayangan sinetronnya. Setidaknya sebelum minggu lalu, saya hanya sekali menonton, itupun hanya sebagian untuk memenuhi rasa penasaran saya terhadap Derby dan Ryan. Saat itu saya pikir lumayan juga.

Namun ternyata secara tak sengaja di waktu luang saya kira-kira minggu lalu secara tak sengaja saya menonton Kepompong. Sekedar tambahan, saya juga baru-baru ini tertarik dengan lagu barunya Derby – Gelora Asmara yang ternyata telah menggantikan lagu Kepompongnya Sindentosca sebagai back sound baru serial ini. Bertambahlah ketertarikan saya menonton hari itu. Akhirnya.. saya tidak menontonnya setiap hari si, tapi kira-kira minggu ini saya nonton 3.5 episode lah..

Mengapa saya dari awal kemudian menyebut Kepompong sebagai serial, agak subjektif mungkin, tapi hal ini yang mendorong saya untuk kembali menonton Kepompong. Ternyata dari pengalaman saya Kepompong tampil lebih fresh daripada sinetron dalam membawakan masalah remaja. Masalah yang dibawakan pun tematik, berbeda dalam setiap episodenya, sehingga tidak ada lagi tulisan ‘Bersambung…’ di akhir episodenya. Kepompong bisa dibilang cukup berkiblat pada serial luar (Amerika) dengan konsep yang saya utarakan tadi. Ditambah lagi penggambaran karakter-karakternya yang cukup kuat. Memang sih kadang masih ada kejanggalan, namun itu tertutupi ide cerita yang selalu membawa pesan moral.

Baru kemarin saya lihat di akhir episode bahwa ternyata serial ini diproduksi oleh Frame Ritz. Rumah Produksi ini memang naik daun setelah berhasil mengangkat FTV sebagai tayangan unggulan yang melahirkan bintang semacam Nagita Slavina, Sheza Idris dan Putri Titian. Dan kini disaat tayangan FTV begitu menjamur, dan tidak begitu berhasil menarik minat saya sebesar jaman Nagita, Sheza dan Tian, Frame Ritz tampaknya berani untuk melahirkan inovasi yang berbeda. Saya tidak mengatakan ini baru, namun menurut saya memang berbeda.

Read More......

Apa perbedaan antara Taman dan Hutan??









Taman itu Indah, Hutan itu Inspiratif
Taman harus Dirawat, Hutan harus Dijaga
Taman itu Nyaman, Hutan itu Menantang

Taman yang tak terawat pun akan menjadi Hutan
Dan Hutan cenderung lebih menyeramkan ketimbang Hutan

Hutan memang harus dijaga, karena begitulah adanya.
Apa guna mengubahnya menjadi Taman
Bila tak mampu merawatnya
Pada akhirnya dia akan lebih menyeramkan dari sebelumnya.
Merusak lingkungan, buramkan pandangan

Saya siap keluar dari Hutan..
Hutan ini baik, dia sediakan aku makanan, namun minim peradaban
Saya ingin mengubah tanah kosong menjadi sebuah taman
Merencanakan, merawat dan menikmati pemandangan
Kata orang tidak gampang untuk melakukan
Oleh sebab itu saya berdoa diberi kekuatan

Read More......

Sunday, December 14, 2008

Meningkatkan Partisipasi Rakyat Dalam Pemilu 2009 dengan Meminimalkan Potensi Golput

oleh: I Made Dwi Prayana
Jakarta, 5 Oktober 2008

Pendahuluan
Sebagai sebuah negara demokrasi yang berlandaskan pada Pancasila, kekuasaan tertinggi berada pada kedaulatan rakyat. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2003 Pemilihan umum (Pemilu) adalah sarana untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah serta memilih Presiden dan Wakil Presiden. Dan pemilihan umum perlu diselenggarakan secara lebih berkualitas dengan partisipasi rakyat seluas-luasnya dan dilaksanakan berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.1
Mengingat Pe
milu merupakan sarana untuk memilih pemimpin yang akan menjalankan proses pemerintahan negara dalam jangka waktu 5 tahun ke depan, penting bagi rakyat untuk dapat menentukan pilihannya secara tepat dan bijaksana untuk menjamin sebuah pemerintahan yang baik. Salah satu prinsip kepemimpinan yang kuat adalah adanya legitimasi yang diperoleh dari kepercayaan mayoritas rakyat terhadap kepemimpinannya. Oleh karena itu semakin banyak rakyat yang terlibat dalam proses pemilihan umum, akan semakin baik bagi pemerintah tersebut.
Dalam rangka
melaksanakan amanat konstitusi, dimana masa pemerintahan satu periode berlangsung selama 5 tahun, maka Indonesia akan melaksanakan Pemilu 2009. Pemerintahan saat ini yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang terpilih pada Pemilu 2004 melalui dua putaran pemilihan yang sekaligus menjadikannya sebagai Presiden Indonesia pertama yang melalui pemilihan langsung.
Jadi sesu
ai dengan Undang-Undang, dimana pemilihan umum perlu diselenggarakan secara berkualitas dengan partisipasi rakyat seluas-luasnya. Dan demi mencapai sebuah pemerintahan yang baik. Maka kita perlu untuk turut mensukseskan Pemilu 2009, dimana salah satu caranya adalah dengan meningkatkan partisipasi rakyat dalam Pemilu 2009 tersebut.

Pembahasan

Sampai Juni 2008 daftar pemilih sementara (DPS) pada Pemilihan Umum 2009 mencapai 174.410.453 pemilih. Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), HA Hafiz Anshary, mengatakan data itu masih bisa bertambah dan berkurang hingga saat Pemilu 2009. Hal ini tentunya mengacu pada persyaratan pemilih yang sah secara administratif. Hafiz mengatakan DPS Pemilu 2009 yang menc
apai 174.410.737 orang tersebut terdiri dari pemilih dalam negeri sebanyak 172.800.716 orang dan pemilih luar negeri sebanyak 1.609.737 orang.2 Jadi jumlah tersebut merupakan kondisi ideal jika semua orang menggunakan hak pilihnya atau kondisi tanpa golongan putih (golput) sebutan bagi yang tidak menggunakan hak pilihnya dengan berbagai alasan.
Jika kita berkaca pada Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) yang telah berlangsung selama 2008 maka potensi angka golput bisa dibilang cukup tinggi. Hal ini tercermin pada pilkada banten dengan tingkat golput tercatat 40 persen, Pilkada Jawa Barat mencatatkan angka golput lebih dari 33 persen, Pilkada DKI Jakarta 35 persen, Pilkada Kepulauan Riau 46 persen, Pilkada Jawa Timur 42 persen dan yang paling fenomenal di Jawa tengah golput mencapai 69 persen.
Hal ini diperkuat pernyataan Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia Saiful Mujani yang memprediksi angka pemilih golput pada Pemilu 2009 akan meningkat dibandingkan tahun 2004. Menurut Mujani "Masyarakat mulai jenuh dengan politik. Akibatnya partisipasi akan menurun," seperti dikutip inilah.com. Mujani juga mengacu pada hasil pilkada yang telah digelar. “Kalau dirata-ratakan, total partisipasi dalam pilkada sekitar 60 persen saja,” ujarnya. Mujani memperkirakan partisipasi pemilih pada Pemilu 2009 berkisar antara 60-70 persen atau lebih rendah ketimbang tahun 2004 yang tingkat partisipasinya berkisar pada angka 80 persen. Masih menurut Mujani, meskipun penurunan tingkat partisipasi ini merupakan hal yang wajar dalam sebuah pemilu yang sukarela/bukan dimobilisasi, namun tingkat kewajaran di Indonesia ini terlalu cepat sehingga dapat menimbulkan apatisme politik.3
Senada dengan Saiful Mujani, Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latif memperkirakan 40 persen calon pemilih tidak menggunakan hak pilihnya dalam pesta demokrasi Pemilu 2009. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan masyarakat kita tidak peduli pada persoalan politik, termasuk memenuhi kewajibannya untuk memberikan suara. Ia menambahkan bagi masyarakat kita mungkin lebih baik bekerja membanting tulang daripada memberi suara di TPS-TPS.4
Direktur Eksekutif Lembaga Kajian dan Survei Kebijakan Politik Lokal, Andreas Pandiangan di Semarang, mengatakan, ada tiga alasan kenapa seseorang tidak ikut pemilihan atau golongan putih (golput).
1. Pertama, alasan administratif dimana seorang pemilih tidak ikut memilih karena terbentur dengan prosedur administrasi, seperti tidak tahu namanya terdaftar dalam daftar pemilih, belum mendapat kartu pemilih atau kartu undangan.
2. Alasan kedua adalah alasan teknis dimana seseorang memutuskan tidak ikut memilih karena tidak ada waktu untuk memilih, seperti harus bekerja di hari pemilihan, sedang ada keperluan, harus ke luar kota di saat hari pemilihan, dan sebagainya atau bisa juga karena malas pergi ke tempat pemungutan suara.
3. Alasan terakhir, yakni alasan politis, dalam hal ini pemilih memutuskan tidak menggunakan haknya karena secara sadar memang memutuskan untuk tidak memilih. Pilkada dipandang tidak ada gunanya, tidak akan membawa perubahan, atau tidak ada calon kepala daerah yang disukai dan sebagainya.
Dari tiga alasan tersebut, sebagian besar bisa diidentifikasi karena alasan administrasi (28,6 persen) dan teknis atau individual (39,1 persen), dan hanya 16,5 persen pemilih yang tidak datang ke TPS.5
Menilik kepada alasan-alasan tersebut maka dapat disimpulkan beberapa cara yang dapat ditempuh untuk meminimalisir golput. Yang pertama pemerintah dalam hal ini diwakili KPU dan KPUD perlu untuk melakukan pendataan yang benar dan akurat. Setelah itu melakukan sosialisasi menyeluruh yang menjangkau ke seluruh pelosok dan benar-benar dapat dipahami masyarakat. Dan tentunya proses pelaksanaan yang benar yang memastikan pemilih mendapatkan haknya.
Yang kedua, pemerintah harus dapat mengatur agar pada saat hari pemilihan konsentrasi pemilih tidak terpecah ke hal lainnya, misalnya pekerjaan. Jadi ada baiknya hari pemilihan dipilih diluar hari kerja. Selain itu lokasi pemilihan harus mudah dijangkau. Dan yang ketiga perlunya dilakukan sosialisasi oleh semua pihak baik pemerintah dan masyarakat akan fungsi pemilu yang benar. Masyarakat harus mengetahui seberapa penting suara mereka dan manfaat pemilu bagi mereka. Sosialisasi ini perlu dilakukan baik di tingkatan pemerintah pusat, daerah, maupun organisasi masyarakat.
Dengan tindakan-tindakan ini diharapkan dapat mengantisipasi alasan-alasan yang biasa dikemukakan para pemilih golput, sehingga dapat meningkatkan partisipasi rakyat dalam Pemilu 2009.

Penutup
Alternatif solusi yang ditawarkan mungkin belum sempurna. Hal ini dikarenakan solusi tersebut mengacu pada alasan-alasan yang muncul ke permukaan. Bisa jadi masih banyak alasan-alasan intrinsik yang tidak terucapkan atau terungkapkan dalam data. Misalnya untuk alasan-alasan politis yang diakibatkan apatisme masyarakat yang selama ini hanya menjadi penonton saja. Selama ini yang benar-benar bersemangat dalam proses demokrasi ini hanyalah orang-orang yang terlibat aktif di dalam ruang lingkup politik.
Pendewasaan berpolitik juga perlu digarisbawahi dalam memperoleh kepercayaan rakyat. Seperti misalnya dua tokoh nasional Gus Dur dan Harmoko yang mengimbau massa pendukungnya untuk menjadi golput dikarenakan kekecewaan mereka terhadap KPU. Atau pemilihan caleg yang track recordnya tidak jelas. Jadi kembali kepada para pelaku politik untuk dapat meningkatkan partisipasi rakyat dalam Pemilu 2009. Karena jika mereka tidak bijaksana, bangsa ini yang akan merasakan akibatnya.
Bagaimanapun Pemilu adalah sebuah proses pembentukan pemerintahan negara di tingkat eksekutif dan legislatif, oleh karena itu pelaksanaan pemilu yang baik dapat membantu terciptanya pemerintahan yang baik pula. Oleh karena itu menjadi kewajiban warga negara untuk mengawasi pelaksanaan Pemilu secara benar.

Daftar Pustaka:
1. Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Anggota DPR, DPD, dan DPRD
2. Rahman, Khaidir. Pemilih Sementara Pemilu 2009 174.410.737 Jiwa. Tempo Interaktif. 6 Agustus 2008. Banjarmasin
3. Fadil, Iqbal. LSI: Golput 2009 Bakal Meningkat. Inilah.com. 10 Juli 2008. Jakarta
4. Golput Bakal Bengkak Hingga 40 Persen. Kompas online. 4 Agustus 2008. Jakarta
5. Tiga Alasan Golput. Antara. 28 Juli 2008. Semarang

Read More......

Tuesday, December 02, 2008

Is it physics??

It’s always a mystery..

I guess hancock was right

'When we’re far, we were drowned each other like a magnet

But be careful, cause when we’re close we become weak

We lose our power'


Mary Embrey: "Whatever we are, we're built in twos. We're drawn together. No matter how far I run, he's always there! He finds me. It's physics."
Ray Embrey: "Wait, what are you saying? Are you saying you two are fated to be together?"
Mary Embrey: "I've lived for a very long time, Ray. And the one thing I learned - fate doesn't decide everything. People get to choose."


Read More......